Minggu, 26 Juni 2016

Bukan hanya Koin yang aku butuhkan (Kisah Para Rasul 3:1-10)

Suatu kali datanglah Petrus untuk sembahyang di bait Allah. Di bait Allah itu, ada sebuah gerbang yang disebut dengan gerbang indah. Uniknya, gerbang itu dikenal sebagai tempat tongkrongan para pengemis, gelandangan, dan orang-orang cacat, yang biasanya meminta sedekah di bait Allah. Setiap hari, pekerjaan mereka hanya menanti-nantikan uang koin untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan moto, pantang pulang sebelum kenyang. Sangat Pantang bagi mereka pulang, jika mereka tidak mendapatkan sejumlah koin untuk makan.  
 Kebetulan pada pukul tiga petang, Petrus datang ketempat itu. Jam sepagi itu, ia hanya melihat seorang pengemis tua renta, yang sedang duduk ditanah dengan beralaskan tikar. Si pengemis itu, berpakaian sederhana dengan tambalan dibajunya. Sekilas memandang, orang pasti langsung tahu, bahwa ia adalah seorang pengemis. Bukan pengemis biasa, tetapi pengemis yang cacat. Ia lumpuh kaki, Tidak ada yang dapat dikerjakannya selain meminta-minta. 
Hanya meminta-minta, demi mengumpulkan beberapa uang koin. Itulah pekerjaannya, tanpa ada sampingan atau penghasilan lainnya. Sepanjang hidupnya, Tidak ada harapan yang muluk-muluk. Tanpa tujuan untuk meraih atau mendapatkan sesuatu. Jika orang-orang dapat mencari kekayaan, memperoleh status yang baik di masyarakat atau pemerintahan, menjadi pengusaha. Atau paling tidak memiliki sebidang tanah untuk digarap. Pengemis ini hanya bisa pasrah. Semua harapannya hanya tinggal kenangan. Harapan yang sama dengan hidupnya, yang seolah-olah - telah mati dan terkubur karena kelumpuhannya. Tidak ada yang ia butuhkan selain bertahan hidup dengan meminta-minta.
Banyak orang mengabaikannya dan menanggapnya kotor. Jikalau ada yang menolongnya, itu hanya dengan melempar koin sebagai wujud belas kasihan. Kemungkinannya, hanya memiliki sebuah koin akan sangat menolong. hanya sebuah koin, akan menjawab kebutuhan terbesar pengemis tua ini. 
Namun kali ini rasanya berbeda. Petrus memperhatikan pengemis ini. Ia berdiri didepan orang tua itu dan menatap matanya yang sayu. Pandangan mata pengemis itu memberi suatu tanda. Ia mengharapkan sebuah koin dilemparkan kepadanya. Lakukanlah Petrus! sama seperti setiap orang yang biasa melewatinya di pintu gerbang. Akan tetapi, pengemis ini ragu melihat sosok didepannya itu. Sebab, Petrus sangat berbeda dari kebanyakan orang. Bukan lemparan koin yang dia dapat dari Petrus. Petrus tidak memberi emas atau perak untuk menunjang kebutuhan hidupnya. Justru, Pengemis ini terkejut mendengar kata-kata Petrus yang berkata mengenai Yesus.
Yesus yang ia dengar, yang telah menjadi pembicaraan banyak orang. Yesus yang dipuja-puja sebagai Mesias, yang telah disalibkan beberapa bulan lalu. Tapi secara mengejutkan, bangkit dari kematian. “Ia mendengar dengan sangat jelas, “demi nama Yesus, orang Nazaret itu, berjalanlah!.” Pengemis itu merasakan ada kuasa yang nyata dari Nama Orang Nazaret itu. Kakinya yang dingin dan kaku tak bergerak, secara tiba-tiba menjadi hangat. Otot-otot kakinya yang lemah, secara ajaib mendapatkan kekuatan baru. Ia mencoba berdiri. Namun sempoyongan dan terjatuh. Pengemis tua ini tidak menyerah. Ia ingin mencobanya sekali lagi. ia yakin, nama  itu berkuasa. Nama itu akan membuatnya berdiri saat ini juga. Sementara kedua tangannya dipakai menopang tubuhnya untuk berdiri. Kakinya mulai gemetar dengan hebatnya.
Dia mulai menitikkan air mata. Air mata yang keluar karena luapan senang dan takjub yang bercampur menjadi satu. Tangisan itu tidak menghentikan usahanya. Ia tidak mau membuang kesempatan itu sekarang. Kesempatan yang hanya didapat sekali seumur hidup. Harapannya yang dulu tiada, sekarang meluap-luap dalam hatinya. Ia mau hidup. Ia mau bebas. Masa lalunya yang kelam dan gelap, akan digantikan hari esok yang terang benderang, dengan langit biru dan awan putih. Kuasa dan kekuatan itu merasuk dalam dirinya. Semua mata yang memandang, seolah-olah memberikan tepuk tangan paling meriah. Terdengar teriakan semangat, langsung ditujukan pada si tua itu. Pengemis itu berusaha berdiri tegak, Susah-payah. Dengan suara nyaring, ia mulai berteriak dengan keras…
Disaat yang sama, Ingatan masa lalu itu tiba-tiba datang. Pikirannya mulai melayang jauh. Sangat jauh sebelum ia mendengar nama Yesus. Pada saat itu,  Ia tengah meringkuk tak berdaya didepan pintu gerbang. Matanya liar, menatap banyak orang berlalu lalang di bait Allah. Kehidupannya seperti dalam penjara. Ya, Ia tidak pernah melihat indahnya dunia dibalik pintu gerbang. Bagai zombie, mayat hidup. Pengemis itu persis zombie yang tidak bisa berjalan.
Keluarganya, menanggapnya sampah. Tidak ada yang bisa diharapkan dari si tua ini. Si tua yang justru merepotkan. Selayaknya bayi berjenggot dan kumal. Setiap hari harus dibersihkan dan diangkat. Setiap hari harus dipindahkan dari rumah kedepan pintu gerbang bait Allah.
Tidak ada sesuatu yang baru dalam hidupnya. tidak ada memancing, mendaki gunung atau naik kuda. Tidak ada! Bahkan sangat mustahil baginya untuk jalan-jalan bersama keluarga dalam kondisi seperti itu. Baginya, yang ada sekarang hanyalah tikar busuk dan baju kumal yang tak pernah jauh darinya. Apa lagi yang dibutuhkannya sekarang. Apa lagi yang dia harapkan dari kelumpuhannya? Sepatu sekolah, handphone, sepeda. Baju baru saat natal. Semua itu tidak ada gunanya. Tidak ada, selain koin.
Semua pasti setuju, dia membutuhkan sedikit koin. Siapa pun yang melihatnya, akan sangat yakin untuk melemparkan koin kepada pengemis tua itu. Sebab, koin itu berbicara lebih banyak dari pada rutinitas ibadah orang-orang saleh di bait Allah. Koin itu lebih mulia dari pada ketaatan ahli-ahli Taurat yang menegakkan hukum agama. Koin itu dapat menjadi bukti sasih, masih ada belas kasihan dalam hati sanubari manusia. Koin itu, walaupun sesaat akan memuaskan perut yang haus dan lapar. Koin itu akan membuatnya hidup lebih lama - hidup bagai zombie. Pengemis itu mengganguk tanda setuju.
“Bukan, Bukan itu yang dia butuhkan,” Kata Petrus dalam hati. Lebih dari pada sejumlah koin untuk memuaskan rasa laparnya. Lebih dari pada sekedar koin untuk memberikan bukti ada kasih dalam diri manusia. Lebih dari pada koin. Jangankan koin, ratusan juta rupiah hasil korupsi sekalipun tidak akan pernah menjawab kebutuhannya. Koin itu hanya akan memenuhi kebutuhannya sesaat. Dia tetap akan lapar, dia tetap akan haus, dia tetap terbelenggu dalam penjara. dia tidak akan menemukan harapan dengan koin. Dia tidak akan pernah melihat langit biru dan awan putih, dari ribuan lemparan koin setiap harinya.
Lalu apa? Ada satu yang sangat dibutuhkannya, dan dia belum mendapatkannya. Lebih dari pada koin. Lebih dari pada memenuhi rasa lapar. Semua orang membutuhkannya - Tanpa terkecuali. Semua orang membutuhkan Yesus, Hanya Yesus. Yesus Kristus lah sumber pengharapan. Oleh karena NamaNya, ada keselamatan kekal. Yesus telah memberikan buktinya, dengan bangkit dari kematian. Nama-Nya berkuasa, mampu memulihkan segala segala sesuatu, Memenuhi segala sesuatu. Dialah sumber jawaban dari persoalan hidup ini. Pengemis ini  membutuhkan Yesus.
Dengan lantang Petrus berkata Demi nama Yesus, orang Nazaret itu, berjalanlah!.” Mendengar kata-kata itu telah mengubah segalanya. Pengemis tua itu bukan hanya mendengar kata-kata, tetapi siapa nama yang disebut didalam kata itu. Pengemis tua itu bukan hanya mendapatkan sepasang kaki yang bisa berjalan. Lebih dari pada itu, karena ia telah mengenal nama itu.
Sejak mengenal nama itu, kehidupannya berubah. Bukan sebagai peminta-minta koin yang putus asa. Bukan hanya memiliki kaki yang normal, melainkan juga iman yang dimilikinya sekarang. oleh karena imannya, harapannya kembali bangkit. Ia mau mengejar impiannya yang telah lama terkubur. Dan lebih dari pada itu, kakinya yang normal merupakan bukti nyata ketika ia mulai mengenal nama itu. Nama diatas segala nama.
Didalam hatinya pengemis itu berkata, “Aku percaya kepada-Nya, Aku berharap kepada-Nya. Bukan kepada koin lagi aku berharap. Tetapi aku berharap kepada Yesus Kristus sang juruselamat.
Setelah pengemis itu mulai berdiri dengan tegak, ia berteriak dengan keras. “Saya bisa berjalan!. Itu semua karena Yesus orang Nazaret itu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar