Suatu kali datanglah Petrus untuk
sembahyang di bait Allah. Di bait Allah itu, ada sebuah gerbang yang disebut
dengan gerbang indah. Uniknya, gerbang itu dikenal sebagai tempat tongkrongan
para pengemis, gelandangan, dan orang-orang cacat, yang biasanya meminta
sedekah di bait Allah. Setiap hari, pekerjaan mereka hanya menanti-nantikan
uang koin untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan moto, pantang pulang sebelum
kenyang. Sangat Pantang bagi mereka pulang, jika mereka tidak mendapatkan
sejumlah koin untuk makan.
Kebetulan
pada pukul tiga petang, Petrus datang ketempat itu. Jam sepagi itu, ia hanya
melihat seorang pengemis tua renta, yang sedang duduk ditanah dengan beralaskan
tikar. Si pengemis itu, berpakaian sederhana dengan tambalan dibajunya. Sekilas
memandang, orang pasti langsung tahu, bahwa ia adalah seorang pengemis. Bukan
pengemis biasa, tetapi pengemis yang cacat. Ia lumpuh kaki, Tidak ada yang
dapat dikerjakannya selain meminta-minta.
Hanya meminta-minta, demi
mengumpulkan beberapa uang koin. Itulah pekerjaannya, tanpa ada sampingan atau
penghasilan lainnya. Sepanjang hidupnya, Tidak ada harapan
yang muluk-muluk. Tanpa tujuan untuk meraih atau
mendapatkan sesuatu. Jika orang-orang dapat
mencari kekayaan, memperoleh status yang baik di masyarakat atau pemerintahan, menjadi pengusaha. Atau paling tidak memiliki sebidang tanah untuk digarap. Pengemis ini hanya bisa pasrah.
Semua harapannya hanya tinggal kenangan. Harapan
yang sama dengan hidupnya, yang seolah-olah - telah mati dan terkubur karena
kelumpuhannya. Tidak ada yang ia butuhkan selain bertahan hidup dengan
meminta-minta.
Banyak orang mengabaikannya dan menanggapnya kotor. Jikalau
ada yang menolongnya, itu hanya dengan melempar koin sebagai wujud belas
kasihan. Kemungkinannya, hanya memiliki sebuah koin akan sangat menolong. hanya sebuah koin,
akan menjawab kebutuhan terbesar pengemis tua ini.
Namun kali ini rasanya berbeda. Petrus memperhatikan pengemis
ini. Ia berdiri didepan orang tua itu dan menatap matanya yang sayu. Pandangan
mata pengemis itu memberi suatu tanda. Ia mengharapkan sebuah koin
dilemparkan kepadanya. Lakukanlah
Petrus! sama
seperti setiap orang yang biasa melewatinya di pintu gerbang. Akan tetapi, pengemis ini ragu melihat sosok didepannya itu. Sebab, Petrus sangat berbeda dari
kebanyakan orang. Bukan lemparan koin yang dia dapat dari Petrus. Petrus tidak memberi emas
atau perak untuk menunjang kebutuhan hidupnya. Justru, Pengemis
ini terkejut mendengar kata-kata Petrus yang berkata mengenai Yesus.
Yesus yang ia
dengar,
yang telah menjadi pembicaraan banyak orang. Yesus
yang dipuja-puja sebagai Mesias, yang telah disalibkan
beberapa bulan lalu. Tapi secara mengejutkan,
bangkit dari kematian. “Ia mendengar dengan sangat
jelas, “demi nama Yesus, orang Nazaret
itu, berjalanlah!.” Pengemis itu merasakan ada kuasa yang nyata dari Nama Orang Nazaret itu. Kakinya yang dingin dan kaku
tak bergerak, secara tiba-tiba menjadi hangat. Otot-otot kakinya yang lemah, secara
ajaib mendapatkan kekuatan baru. Ia
mencoba berdiri. Namun sempoyongan dan terjatuh. Pengemis tua ini tidak menyerah.
Ia ingin mencobanya sekali lagi. ia yakin, nama itu berkuasa. Nama itu
akan membuatnya berdiri saat ini juga. Sementara kedua tangannya dipakai
menopang tubuhnya untuk berdiri. Kakinya mulai gemetar dengan hebatnya.
Dia mulai menitikkan air mata. Air
mata yang keluar karena luapan senang dan takjub yang bercampur menjadi satu. Tangisan
itu tidak menghentikan usahanya. Ia tidak mau membuang kesempatan itu sekarang.
Kesempatan yang hanya didapat sekali seumur hidup. Harapannya yang dulu tiada,
sekarang meluap-luap dalam hatinya. Ia mau hidup. Ia mau bebas. Masa lalunya yang
kelam dan gelap, akan digantikan hari esok yang terang benderang, dengan langit
biru dan awan putih. Kuasa dan kekuatan itu merasuk dalam dirinya. Semua mata
yang memandang, seolah-olah memberikan tepuk tangan paling meriah. Terdengar teriakan
semangat, langsung ditujukan pada si tua itu. Pengemis itu berusaha berdiri
tegak, Susah-payah. Dengan suara nyaring, ia mulai berteriak dengan keras…
Disaat yang sama, Ingatan masa lalu
itu tiba-tiba datang. Pikirannya mulai melayang jauh. Sangat jauh sebelum ia
mendengar nama Yesus. Pada saat itu, Ia
tengah meringkuk tak berdaya didepan pintu gerbang. Matanya liar, menatap banyak
orang berlalu lalang di bait Allah. Kehidupannya seperti dalam
penjara. Ya, Ia tidak pernah melihat indahnya dunia dibalik pintu gerbang.
Bagai zombie, mayat hidup. Pengemis itu persis zombie yang tidak bisa berjalan.
Keluarganya, menanggapnya sampah. Tidak
ada yang bisa diharapkan dari si tua ini. Si tua yang justru merepotkan. Selayaknya
bayi berjenggot dan kumal. Setiap hari harus dibersihkan dan diangkat. Setiap hari harus
dipindahkan dari rumah kedepan pintu gerbang bait
Allah.
Tidak ada sesuatu yang baru dalam
hidupnya. tidak ada memancing, mendaki gunung atau naik kuda. Tidak ada! Bahkan
sangat mustahil baginya untuk jalan-jalan bersama keluarga dalam kondisi
seperti itu. Baginya, yang ada sekarang hanyalah tikar busuk dan baju kumal yang
tak pernah jauh darinya. Apa lagi yang dibutuhkannya sekarang. Apa lagi yang
dia harapkan dari kelumpuhannya? Sepatu sekolah, handphone, sepeda. Baju baru
saat natal. Semua itu tidak ada gunanya. Tidak ada, selain koin.
Semua pasti setuju, dia membutuhkan sedikit
koin. Siapa pun yang melihatnya, akan sangat yakin untuk melemparkan koin
kepada pengemis tua itu. Sebab, koin itu berbicara lebih banyak
dari pada rutinitas ibadah orang-orang saleh di bait Allah. Koin itu lebih
mulia dari pada ketaatan ahli-ahli Taurat yang menegakkan hukum agama. Koin itu
dapat menjadi bukti sasih, masih ada belas kasihan
dalam hati sanubari manusia. Koin itu, walaupun sesaat akan memuaskan perut
yang haus dan lapar. Koin itu akan membuatnya hidup lebih lama - hidup bagai
zombie. Pengemis itu mengganguk tanda setuju.
“Bukan, Bukan itu yang dia butuhkan,”
Kata Petrus dalam hati. Lebih dari pada sejumlah koin untuk memuaskan rasa
laparnya. Lebih dari pada sekedar koin untuk memberikan bukti ada kasih dalam
diri manusia. Lebih dari pada koin. Jangankan koin, ratusan juta rupiah hasil
korupsi sekalipun tidak akan pernah menjawab kebutuhannya. Koin itu hanya akan
memenuhi kebutuhannya sesaat. Dia tetap akan lapar, dia tetap akan haus, dia
tetap terbelenggu dalam penjara. dia tidak akan menemukan harapan dengan koin.
Dia tidak akan pernah melihat langit biru dan awan putih, dari ribuan lemparan koin
setiap harinya.
Lalu apa? Ada satu yang sangat
dibutuhkannya, dan dia belum mendapatkannya. Lebih dari pada koin. Lebih dari
pada memenuhi rasa lapar. Semua orang membutuhkannya - Tanpa terkecuali. Semua orang
membutuhkan Yesus, Hanya Yesus. Yesus Kristus lah sumber pengharapan. Oleh karena NamaNya, ada keselamatan kekal.
Yesus telah memberikan buktinya, dengan bangkit dari kematian. Nama-Nya
berkuasa, mampu memulihkan segala segala sesuatu, Memenuhi segala sesuatu. Dialah
sumber jawaban dari persoalan hidup ini. Pengemis ini membutuhkan Yesus.
Dengan lantang Petrus berkata “Demi nama Yesus, orang Nazaret itu, berjalanlah!.” Mendengar kata-kata itu telah mengubah segalanya.
Pengemis
tua itu bukan hanya mendengar kata-kata, tetapi siapa nama yang disebut didalam
kata itu. Pengemis tua itu bukan
hanya mendapatkan sepasang kaki yang bisa berjalan. Lebih dari pada itu, karena ia telah mengenal nama itu.
Sejak mengenal nama itu, kehidupannya berubah. Bukan sebagai
peminta-minta koin yang putus asa. Bukan hanya memiliki kaki yang normal, melainkan juga iman yang dimilikinya
sekarang. oleh karena imannya, harapannya kembali bangkit. Ia mau mengejar impiannya yang telah lama
terkubur. Dan lebih dari pada itu, kakinya yang normal merupakan bukti nyata
ketika ia mulai mengenal nama itu. Nama diatas segala nama.
Didalam hatinya pengemis itu berkata, “Aku percaya kepada-Nya, Aku berharap kepada-Nya. Bukan kepada koin lagi
aku berharap. Tetapi aku berharap kepada Yesus Kristus sang juruselamat.”
Setelah pengemis itu mulai berdiri dengan tegak, ia berteriak dengan keras. “Saya
bisa berjalan!. Itu semua karena Yesus orang Nazaret itu.”
